Putri Katak

Pada suatu waktu di negeri yang jauh, ada seorang Tsar yang mempunyai tiga anak yang belum menikah. Tsar ingin mereka menikah dan meneruskan keturunan. Dia berkata kepada anak-anaknya, bahwa mereka harus pergi ke lapangan di depan istana dan mereka harus menembakkan anak panah ke udara sejauh mungkin. Dan mereka harus menikahi siapa pun di tempat anak panahnya mendarat.

Ketiganya melakukan perintah ayah mereka. Anak panah dari anak tertua mendarat di halaman seorang bangsawan dan anak gadis boyar itu mengambilnya. Anak panah dari anak kedua mendarat di halaman rumah pedagang, putri pedagang menemukannya. Anak termuda, Pangeran Ivan, menembakkan anak panahnya ke sebuah rawa. Saat dia mendatangi rawa itu untuk mencari anak panahnya, dia menemukan seekor katak memegang panah di mulutnya. Sebagai anak yang patuh, dia melakukan apa yang diperintahkan ayahnya, dan akhirnya semua menikah dengan hasil jatuhnya anak panah masing-masing.

Tentu saja, hari itu kedua kakak Ivan menertawakan adik dan kataknya. Pangeran Ivan merasa sangat sedih, namun dia tetap pada perjanjiannya dan memperlakukan katak itu sebagai seorang putri. Setidaknya, katak itu adalah katak yang dapat berbicara.

Suatu hari Tsar memanggil ketiga anaknya dan berkata, masing-masing istri mereka harus membuatkannya sebuah pakaian sebaik mungkin besok pagi. Kedua kakak Ivan segera pergi untuk menyampaikan perintah Tsar pada istri mereka, sementara Pangeran Ivan pulang ke rumah dalam keadaan sedih. Saat katak menanyakan apa yang terjadi, katak pun mengatakan agar jangan khawatir.

Malam saat semua sedang tidur, katak berubah menjadi putri cantik bernama Vasilisa yang bijaksana. Pagi harinya Ivan bangun dan menemukan baju yang indah terletak di kursi, lalu dia segera berlari dengan bahagia ke istana. Tsar tidak menyukai baju dari dua menantunya yang lain, namun menyukai yang dibawa Ivan.

Beberapa hari kemudian, Tsar berkata kepada ketiga putranya, bahwa ia ingin istri mereka membuatkan roti yang paling enak besok pagi. Tentu saja, hal yang sama terjadi, katak membuat roti yang menyenangkan Tsar. Kemudian Tsar berkata kepada anak-anaknya, bahwa besok dia akan mengadakan pesta di istana. Tsar ingin istri mereka mengenakan pakaian yang terbaik. Pangeran Ivan pulang ke rumah dan menceritakan tentang pesta itu kepada katak, dan sama seperti sebelumnya katak mengatakan jangan khawatir. Katak meminta Pangeran Ivan untuk berangkat sendiri terlebih dahulu, dan nanti dia akan menyusulnya.

Keesokan harinya Ivan pergi ke pesta seorang diri, saudara dan istri mereka mulai menertawakan Ivan. Mendadak semua dikejutkan oleh suara gemuruh yang mendekati istana. Sebuah kereta emas menuju pintu masuk, pintunya terbuka, dan Vasilisa yang bijaksana turun dari kereta. Semua keheranan, karena dia menggandeng tangan Pangeran Ivan dan berjalan bersamanya ke pesta.

Di meja makan Vasilisa, setelah memakan hidangan utama berupa angsa panggang, dia meletakkan beberapa tulang di atas lengan bajunya, meminum sedikit anggur, dan menuangkan sisanya dari gelas ke lengan bajunya yang lain. Saudara iparnya menirukan tindakan Vasilisa. Saat semua orang berdiri untuk berdansa, Vasilisa, berdansa dengan Ivan, melambaikan satu tangannya dan muncul sebuah danau, kemudian dia melambaikan tangan lainnya dan muncullah beberapa angsa di danau itu. Saudara iparnya juga menirukan melambaikan tangannya, tetapi mereka hanya mengakibatkan percikan anggur pada hadirin dan melemparkan tulang-tulang ke lantai dansa.

Pangeran Ivan merasa sangat gembira memiliki istri yang demikian cantik, kemudian dia lari ke rumah saat yang lainnya masih di pesta dan membakar kulit katak istrinya. Saat Vasilisa kembali ke rumah dan tidak menemukan kulit kataknya, dia menjadi sedih dan berkata, jika Pangeran Ivan menunggu tiga hari lagi dia akan benar-benar menjadi istrinya selamanya. Namun, kini dia harus pergi sebagai tawanan Koshchei yang tidak terkalahkan dan kemudian dia menghilang.

Ivan menangis dengan penuh kesedihan dan pergi mencari istrinya. Di tengah jalan dia bertemu dengan seorang tua dan menceritakan apa yang terjadi. Orang tua itu berkata, bahwa ayah Vasilisa mengubahnya menjadi katak selama tiga tahun karena dia lebih bijaksana dari ayahnya. Jika ingin bertemu dengannya, orang tua itu meminta Ivan mengambil bola yang diberikannya dan mengikutinya saat menggelinding di tanah.
Ivan mengikuti bola itu ke dalam hutan hingga dia bertemu dengan beruang. Karena merasa sangat lapar dia bermaksud memanah beruang itu, namun beruang itu memohon agar ridak membunuhnya dan dia akan dapat menolong Pangeran Ivan kelak.

Ivan tidak jadi memanah beruang itu dan melanjutkan perjalanannya, di dalam hutan dia melihat elang dan akan membunuhnya. Namun, elang memohon agar jangan membunuhnya dan dia akan membantunya nanti.

Dengan perut yang semakin lapar, Ivan melanjutkan perjalanannya. Kemudian dia bertemu dengan kelinci dan juga tidak dapat membunuhnya, karena kelinci memohon padanya. Hal yang sama terjadi saat dia tiba di tepi pantai dan menemukan seekor ikan pike.

Tidak lama kemudian Ivan tiba di gubuk yang terbuat dari tulang kaki ayam tempat tinggalnya Baba Yaga si peri tua. Dia berkata pada Ivan, bahwa Vasilisa berada di rumah Koshchei. Sangat sulit untuk mengalahkannya, nyawanya ada di ujung jarum, jarum itu ada di dalam telur, telurnya ada di dalam bebek, bebeknya ada dalam kelinci, kelincinya berada dalam lemari batu, lemari itu ada dipuncak pohon oak. Setelah diberi penjelasan oleh Baba Yaga, Ivan mengucapkan terima kasih pada peri tua itu.

Ivan melanjutkan perjalanan sampai dia menemukan pohon oak, namun pohon itu terlalu tinggi untuk dipanjat dan terlalu kuat untuk ditebang. Mendadak muncul beruang yang tidak jadi dibunuh oleh Ivan mengguncangkan pohon. Kemudian sebuah lemari batu jatuh dari pohon dan pecah, lalu kelinci di dalam lemari keluar dan segera melarikan diri. Kemudian kelinci yang tidak jadi dibunuh Ivan datang dan mengejar dan membunuh kelinci yang lari itu.

Lalu seekor bebek terbang keluar dari tubuh kelinci yang mati, tetapi burung elang yang dibiarkan hidup oleh Ivan dapat menangkapnya. Telur jatuh dari bebek ke dalam laut. Ikan pike yang dibiarkan hidup oleh Ivan menemukan telur itu dan membawanya ke hadapan Ivan. Pangeran Ivan membuka telur, menghancurkan jarum dan seketika itu juga Koschei di istananya meninggal.

Setelah Koschei meninggal, akhirnya Vasilisa kini telah bebas. Pangeran Ivan lalu mengajak Vasilisa kembali ke rumah, dan sejak itu mereka hidup bahagia hingga akhir hidup mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *